Beranda

Sunday, 7 September 2014

Hindarilah Keputusasaan dan Kegagalan


Seorang pemuda anak tunggal dari seorang ibu tua masuk bui karena sebuah kesalahan yang diperbuatnya. Maka, si ibu itu pun tak bisa tidur. Dari hari ke hari ia hanya meratap pilu dan terus diselimuti kesedihan. Bersamaan dengan itu, Allah membimbingnya untuk senantiasa mengucapkan, “La haula wa la quwwata illa billah”[Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah]. Ia membaca kalimat agung-kalimat yang menjadi salah satu dari harta simpanan di surga-itu berulang-ulang. Dan tidak lama berselang, ketika dia hampir putus asa, tiba-tiba si anak datang mengetuk pintu rumahnya. Sontak, si ibu itu pun terkejut bercampur bahagia.
                Itulah hasil dari kebergantungannya kepada Tuhan, ketekunannya dalam berdoa dan ketulusannya dalam berserah dirikepada Allah. Maka, hendaklah engkau senantiasa mengucapkan,”la haula wa la quwwata illa billah  ”. Kalimat ini merupakan kalimat agung yang menyimpan rahasia kebahagiaan dan kemenangan. Perbanyaklah membacanya. Buanglah segala bentuk kesedihan, dengan kebahagiaan dari Allah. Jangan engkau putus harapan atau merasa gagal sebelum berupaya. Sebab, tidak ada kesulitan kecuali akan datang kemudahan setelahnya.
                Itulah hukum alam dan bagian dari kehidupan ini. Berbaiksangkalah kepada Allah. Bertawakallah kepada-Nya. Mintalah apa yang ada pada-Nya dan tunggulah kemenangan dari-Nya. 

Saturday, 6 September 2014

Jalan Menuju Allah adalah Jalan yang Terbaik

  


Apakah kebahagiaan itu terletak pada harta? Ataukah kebahagiaan itu ada pada pangkat dan jabatan? Jawabannya bisa bermacam-macam...
Namun, merilah kita tengok kebahagiaan seorang wanita berikut ini :

   Sepasang suami-istri tengah terlibat dalam sebuah pertengkaran. "Aku akan membuatmu sengsara!," ancam si suami. "Kamu tidak akan bisa melakukan itu!," jawab si istri dengan tenang. Sontak, si suami berkata, "Mengapa tidak?" Si istri menjawab,"Jika kebahagiaan itu terletak pada harta, mungkin engkau bisa mencegahnya dariku. Demikian pula bila kebahagiaan itu ada pada perhiasan, barangkali engkau juga bisa menahannya agar tidak sampai kepadaku. Namun, kebahagiaanku bukanlah tergantung pada apa pun yang engkau miliki, atau yang dimiliki manusia lainnya, Sebab, aku menemukan kebahagiaan itu dalam keimananku yang bersemayam kukuh di dalam hatiku, dan tiada yang berkuasa atas hatiku selain Tuhanku."
   Itulah kebahagiaan hakiki : Kebahagiaan yang terpancar dari keimanan. Yakni, sebuah kebahagiaan yang hanya bisa sirasakan oleh orang-orang yang di dalam hatinya, jiwanya, dan pikirannya mengalir kecintaan kepada Allah. Betapapun, sumber utama kebahagiaan sejati adalah hanya Dia yang Maha Esa. Maka, mohonlah kebahagiaan dari-Nya dengan menjalankan ketaatan terhadap-Nya.

   Singkat kata, satu-satunya jalan untuk memperoleh kebahagiaan itu adalah hanya dengan memahami agama yang benar, yaitu agama yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Barang siapa telah mengetahui jalan ini, maka ia tidak akan pernah takut untuk tidur di sebuah gubuk, berbantalkan jerami, atau hanya makan sepotong roti demi menjadi manusia yang paling bahagia di dunia.

   Adapun mereka yang tidak mengetahui jalan ini, niscaya hari-hari mereka akan dihiasi dengan kesedihan, harta merka akan menjadi sumber petaka, dan amal-amal perbuatan mereka akan menjadi penyesalan. Tragisnya lagi, akibat yang akan mereka terima nantinya adalah sebuah kehinaan dan kenistaan.