Beranda

Tuesday, 28 October 2014

Berterima Kasih Kepada Orang yang Berbuat Baik Itu Wajib


Adalah seorang budak wanita bernama Khaizuran. Suatu ketika ia dibeli oleh Khalifah la-Mahdi dari suku Nukhas dan kemudian dibebaskan, dinikahkan dan kedua orang tuanya diberi kedudukan terhormat dalam pemerintahan. Namun, setiap kali marah, Khaizuran selalu berkata kepada Khalifah:”Aku tidak pernah melihat sinar kebaikan sedikit pun dari dirimu!”

Syahdan, al-Barmakiyah adalah seorang budak wanita yang tak jauh beda dengan Khaizuran: Ia dibeli oleh al-Mu’tamad Ibn Ibad, seorang raja dari Maroko. Lalu, oleh raja itu ia dibebaskan dan dijadikan permaisurinya. Satu hari, ia melihat budak-budak wanita kecil bermain lumpur, sehingga ia pun terkenang dengan masa lalunya. Lalu, ia mengutarakan keinginannya untuk bermain lumpur seperti mereka. Sang Raja pun memerintahkan untuk membuatkan kolam dari lumpur agar permaisurinya itu bisa bermain-main di dalamnya. Namun, setiap kali kemarahan muncul, permaisurinya itu berkata kepada sang raja,”Aku tidak pernah melihat cahaya kebaikan sedikit pun pada dirimu.” Sang raja tersenyum sambil berkata,
“Apakah engkau juga tidak melihat kebaikanku ketika aku membuatkan kolam untukmu?” Maka permaisuri itu menjadi malu karenanya.
Adalah merupakan watak wanita-kecuali sedikit saja dari mereka- suka melupakan kebaikan orang lain ketika ia sedang gelisah atau ketika hatinya sedang gundah. Ada hadis dari Nabi s.a.w., “Wahai kaum wanita, banyak-banyaklah kalian berderma, karena aku ingin melihat kebanyakan penghuni neraka adalah dari golongan kalian.” Lalu kami bertanya,”Karena apa, wanita Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. menjawab,”(Karena) kalian sering mengutuk, banyak mencela, dan sering menentang suami.”
Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Diperlihatkan kepadaku neraka, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, karena mereka menentang suami dan mengingkari kebaikannya, dan bila kalian memberikan kebaikan kepada salah seorang dari mereka selama beberapa waktu dan kemudian melihat sebuah kesalahan sedikit saja darimu, maka ia akan berkata,’Aku tidak melihat sinar kebaikan sedikit pun dari dirimu’”
Karena itu, apabila seseorang sudah mengetahui watak kaum wanita, hendaklah ia tidak marah, gelisah, dan tidak tegang urat syarafnya manakala mereka menentangnya dan berkata kepadanya,”Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu,” kendati sebenarnya suaminya itu sering kali berbuat baik untuknya. 

Saturday, 25 October 2014

Nasihat-Nasihat Dari Wanita Sukses

Dengan tersenyum haru dan menasihati putrinya seperti berikut   :
“Wahai putriku, engkau akan menghadapi sebuah kehidupan baru. Yaitu, sebuah kehidupan yang tak ada tempat bagi bapakmu, ibumu, dan saudara-saudaramu untuk mencampuri urusanmu. Dalam kehidupan barumu itu engkau akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain yang ikut campur dalam urusanmu dengan suamimu, sedekat apa pun hubungan darahnya denganmu. Maka, jadilah engkau istri dan ibu baginya. Buatlah dia merasa bahwa engkau adalah segala-halanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah, seorang suami adalah”bocah besar” yang cukup bahagia hanya dengan sedikit ungkapan kemanjaanmu padamu. Janganlah engkau membuatnya merasa bila pernikahannya denganmu merupakan penyebab terpisahnya dirimu dari keluarga dan orangtuamu. Perasaan seperti ini juga dirasakan olehnya. Dia telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang wanita selalu merindukan keluarga dan rumah di mana dia dilahirkan, tumbuh, dan belajar di dalamnya. Tetapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam suasana baru. Dia harus menyesuaikan diri dengan seorang laki-laki yang telah menjadi suami, pelindung, dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru!”

“Wahai putriku, itulah kehidupan yang akan engkau hadapi dan bahtera keluarga yang akan kalian bangun berdua. Aku tidak memaksamu untuk melupakan ibu, ayah, dan saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu, wahai putri kesayanganku. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya? Namun, aku hanya kepadamu, cintailah suamimu dan hiduplah dengan bahagia bersamanya.”

Sunday, 7 September 2014

Hindarilah Keputusasaan dan Kegagalan


Seorang pemuda anak tunggal dari seorang ibu tua masuk bui karena sebuah kesalahan yang diperbuatnya. Maka, si ibu itu pun tak bisa tidur. Dari hari ke hari ia hanya meratap pilu dan terus diselimuti kesedihan. Bersamaan dengan itu, Allah membimbingnya untuk senantiasa mengucapkan, “La haula wa la quwwata illa billah”[Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah]. Ia membaca kalimat agung-kalimat yang menjadi salah satu dari harta simpanan di surga-itu berulang-ulang. Dan tidak lama berselang, ketika dia hampir putus asa, tiba-tiba si anak datang mengetuk pintu rumahnya. Sontak, si ibu itu pun terkejut bercampur bahagia.
                Itulah hasil dari kebergantungannya kepada Tuhan, ketekunannya dalam berdoa dan ketulusannya dalam berserah dirikepada Allah. Maka, hendaklah engkau senantiasa mengucapkan,”la haula wa la quwwata illa billah  ”. Kalimat ini merupakan kalimat agung yang menyimpan rahasia kebahagiaan dan kemenangan. Perbanyaklah membacanya. Buanglah segala bentuk kesedihan, dengan kebahagiaan dari Allah. Jangan engkau putus harapan atau merasa gagal sebelum berupaya. Sebab, tidak ada kesulitan kecuali akan datang kemudahan setelahnya.
                Itulah hukum alam dan bagian dari kehidupan ini. Berbaiksangkalah kepada Allah. Bertawakallah kepada-Nya. Mintalah apa yang ada pada-Nya dan tunggulah kemenangan dari-Nya. 

Saturday, 6 September 2014

Jalan Menuju Allah adalah Jalan yang Terbaik

  


Apakah kebahagiaan itu terletak pada harta? Ataukah kebahagiaan itu ada pada pangkat dan jabatan? Jawabannya bisa bermacam-macam...
Namun, merilah kita tengok kebahagiaan seorang wanita berikut ini :

   Sepasang suami-istri tengah terlibat dalam sebuah pertengkaran. "Aku akan membuatmu sengsara!," ancam si suami. "Kamu tidak akan bisa melakukan itu!," jawab si istri dengan tenang. Sontak, si suami berkata, "Mengapa tidak?" Si istri menjawab,"Jika kebahagiaan itu terletak pada harta, mungkin engkau bisa mencegahnya dariku. Demikian pula bila kebahagiaan itu ada pada perhiasan, barangkali engkau juga bisa menahannya agar tidak sampai kepadaku. Namun, kebahagiaanku bukanlah tergantung pada apa pun yang engkau miliki, atau yang dimiliki manusia lainnya, Sebab, aku menemukan kebahagiaan itu dalam keimananku yang bersemayam kukuh di dalam hatiku, dan tiada yang berkuasa atas hatiku selain Tuhanku."
   Itulah kebahagiaan hakiki : Kebahagiaan yang terpancar dari keimanan. Yakni, sebuah kebahagiaan yang hanya bisa sirasakan oleh orang-orang yang di dalam hatinya, jiwanya, dan pikirannya mengalir kecintaan kepada Allah. Betapapun, sumber utama kebahagiaan sejati adalah hanya Dia yang Maha Esa. Maka, mohonlah kebahagiaan dari-Nya dengan menjalankan ketaatan terhadap-Nya.

   Singkat kata, satu-satunya jalan untuk memperoleh kebahagiaan itu adalah hanya dengan memahami agama yang benar, yaitu agama yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Barang siapa telah mengetahui jalan ini, maka ia tidak akan pernah takut untuk tidur di sebuah gubuk, berbantalkan jerami, atau hanya makan sepotong roti demi menjadi manusia yang paling bahagia di dunia.

   Adapun mereka yang tidak mengetahui jalan ini, niscaya hari-hari mereka akan dihiasi dengan kesedihan, harta merka akan menjadi sumber petaka, dan amal-amal perbuatan mereka akan menjadi penyesalan. Tragisnya lagi, akibat yang akan mereka terima nantinya adalah sebuah kehinaan dan kenistaan.

Friday, 30 May 2014

CERITA MOTIVASI

Mungkin kalian yang suka cerita motivasi suka cari-cari cerita motivasi di internet. Nah, disini saya ingin membantu kalian yang ingin membaca cerita motivasi. Salah satu cerita motivasi yang membuat saya hampir terharu adalah cerita ini.....

AKU MENANGIS 6 KALI UNTUK ADIKKU



Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangatterpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, danpunggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahunlebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang manasemua gadis  disekelilingku kelihatannyamembawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segeramenyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengansebuah tongkat bambu di tangannya,
"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidakmendengar siapa pun mengak, jadi Beliau mengatakan  :
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layakdipukul!".
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba,adikku mencenkram tangannya dan berkata :
"Ayah, aku yang melakukannya!".
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mancambukinya sampai Beliaukehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami danmemarahi :
"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, halmemalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?. Kamu layakdipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!".
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak manitikkan air mata setetes pun. Dipertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikkumenutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata :
"Kak, jangan menangis lagi sekaran. Semuanya sudahterjadi."
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukupkeberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insidentersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupatampang adikku ketika ia melindungiku.waktu itu adikku 8 tahun. Aku berusia 11tahun.

Ketika adikku berada pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masukSma di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah  universitas provinsi. Malam itu, ayahberjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Akumendengarnya memberenggut :
“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasilyang begitu baik..”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas.Sambil berkata :
“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanyasekaligus?”.
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah danberkata :
“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukupmembaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnyasambil berkata :
“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?.Bahkan jika berarti  saya mesti mengemisdi jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”.
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah untuk meminjamuang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yangmembengkak, dan berkata :
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya , kalautidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”
Aku, sebaliknya , telah memutuskan untuk tidak lagimeneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya , sebelum subuhdatang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dansedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke sam[ing ranjangku danmeninggalkan secarik kertas di atas bantalku :
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergimencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, danmenangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikkuberusia 17 tahun dan aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruhdusun, dan yang adikku hasilkan dari mengangkat semen pada punggungnya dilokasi kontruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di Universitas). Suatuhari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk danmemberitahukan :
“Ada seorang penuduk dusun menunggumu di luar sana!”.

 Mengapa ada seorangpenduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.  Aku menanyakannya :
“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalahadikku?”
Dia menjawab, tersenyum,
“Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikirjika tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Akumenyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-tersekat dalam kata-kataku:
“aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku kapanpun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu...”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentukkupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan :
“Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku pikirkamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarikadikku ke dalam pelukanku dan menangis. Tahun itu ia berusia 20, dan aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yangpecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang,aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untukmembersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum :
“Itu adalah kerjaan adikmu yang pulang awal untukmembersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terlukaketika memasang jendela baru itu..”.
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanyayang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb padalukanya dan membalut lukanya, aku bertanya :
“Apakah itu sakit?”.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasikontruksi, batu-batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidakmenghentikanku bekerja dan...” Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air matamengalir deras turun kewajahku. Tahun itu, adikku 24 dan aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamikudan aku mengundang orang tuaku datang dan tinggal bersama kami, tetapi merekatidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidakakan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan :
“Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga ibu dan ayahdi sini.”
Suamiku menjadi direktur pabrik miliknya. Kami menginginkanadikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagaipekerja reparasi.

Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaikisebuah kabel, ketika ia mendapatkan sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, akumenggerutu :
“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akanpernah harus merelakan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang,luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengarkan kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membelakeputusannya :
“Pikirkan kakak ipar... ia baru saja jadi direktur, dan sayahampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, beritaseperti apa yang dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluarkata-kataku yang sepatah-sepatah :
“ Tapi kurang pendidikan juga karna aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggamtanganku. Tahun itu, ia berusai 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadispetani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itubertanya kepadanya :
“Siapa yang kamu hormati dan kasihi?”.
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab :
“Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali kisah yang bahkantidak dapat kuingat :
“Ketika aku pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yangberbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi kesekolah dan ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku.Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja danberjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karenacuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hariitu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baikkepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkanperhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku akhirnyakeluar juga :
“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalahadikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling membahagiakan ini, di depankerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.