“Wahai putriku, engkau akan menghadapi sebuah kehidupan
baru. Yaitu, sebuah kehidupan yang tak ada tempat bagi bapakmu, ibumu, dan
saudara-saudaramu untuk mencampuri urusanmu. Dalam kehidupan barumu itu engkau
akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain
yang ikut campur dalam urusanmu dengan suamimu, sedekat apa pun hubungan
darahnya denganmu. Maka, jadilah engkau istri dan ibu baginya. Buatlah dia
merasa bahwa engkau adalah segala-halanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah,
seorang suami adalah”bocah besar” yang cukup bahagia hanya dengan sedikit
ungkapan kemanjaanmu padamu. Janganlah engkau membuatnya merasa bila
pernikahannya denganmu merupakan penyebab terpisahnya dirimu dari keluarga dan
orangtuamu. Perasaan seperti ini juga dirasakan olehnya. Dia telah meninggalkan
rumah kedua orang tuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan
antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang
wanita selalu merindukan keluarga dan rumah di mana dia dilahirkan, tumbuh, dan
belajar di dalamnya. Tetapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam
suasana baru. Dia harus menyesuaikan diri dengan seorang laki-laki yang telah
menjadi suami, pelindung, dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang
baru!”

No comments:
Post a Comment